Review Gundala, Film Superhero Indonesia yang Mantap
Minggu, 15 September 2019
Add Comment
Halo,
Awal september 2019 lalu, saya nonton film yang lumayan menghebohkan dunia perfilman Indonesia, ya, Gundala, yang diderek oleh Joko Anwar. Sebelum film ini dirilis seluruh bioskop Indonesia, Gundala ada pre-ordernya di TIX-ID, dan menjadi film pertama Indonesia yang menggunakan teknologi Dolby Atmos. Kalau gatau, dolby atmos itu bisa buat film seperti hampir nyata, kek kita berada di setiap scene film, kek real gitu karena speaker yang dipasang di studio lebih banyak daripada yang ga pake dolby. (Mantap Ga tu!)
Di sini saya akan review film gundala menurut sudut pandang penulis (saya), bagi yang tidak suka dengan spoiler ringan dan berat, diminta untuk mundur mundur, dan bagusnya nonton dulu sih. Film Gundala masih tayang di bioskop saat blog ini ditulis. Kalau sekarang tidak ada, berarti ya... emang tidak ada, tunggu di tv swasta.
Jadi, gas scroll ke bawah.
1. GUNDALA
Gundala, ini adalah judul superhero Indonesia dimuat dalam komik jaman dulu, tahun 1969 dengan Judul "Gundala Putra Petir", dibikin seorang komikus Harya Suraminata. Berbeda dengan komiknya, Gundala dalam film yaitu tokoh utama " si Sancaka" pekerjaanya seorang satpam di pabrik, sedangkan di komik ia seorang ilmuwan. Awal film, yang saya pikirkan saat itu "wow, gila ni film" menampilkan beberapa orang dengan peran buruh dan beberapa orang penjaga sebuah pabrik dengan pakaian lengkap seperti helm dan pentulnya sekalian. Bapak si Sancaka adalah komando atau koordinator para buruh yang demo. Berawal niat baik untuk membicarakan dengan baik-baik tanpa adanya anarkis, setelah kedua pihak berhadap-hadapan, di belakang kerumunan buruh, satu orang melempar batu terus mengenai helm seorang penjaga. Akhirnya memancing para penjaga untuk menyerang. Perkelahian pun tidak terhindarkan.
![]() |
| https://www.youtube.com/watch?v=8rauD1vxMCw |
Dari awal film, saya sangat tertarik pada peran semua karakter, dan saya dominan melihat pada cuaca di scene-scene awal (entah kenapa di awal itu cuaca di sana selalu mendung, entah emang dari cgi atau tempat nya emang mendung, dan itu seperti real bagi saya). Di awal film terdapat masalah besar, salah satunya bapak si sancaka mati ditikam oleh orang yang tidak dikenal, lalu menimbulkan renteran takdir sancaka yang berjuang sendirian.
2. GRAFIK
Dengan budget yang tidak sama dengan film marvel, tidak cukup untuk membandingkan film Gundala Indonesia dengan film tersebut. Tetapi yang namanya orang, akan selalu membandingkan apa yang sudah ada, saat Bumi Langit Universe mengumumkan film superhero Indonesia dengan nantinya dalam satu semesta, orang-orang menebak dan berharap apakah bisa sesukses marvel saat Ironman pertama dirilis.
![]() |
| https://www.youtube.com/watch?v=8rauD1vxMCw |
Saya pribadi merasa bahwa Gundala berhasil menjadi yang terbaik sejak film-film CGI Indonesia yang lain, dan awal yang bagus menjadi pintu gerbang untuk film-film pahlawan selanjutnya dalam BLU maupun yang lain, tetapi pasti ada orang yang merasa kecewa dan menyesal setelah menontonnya, mungkin karena harapan yang sangat tinggi atas film ini. Balik lagi ke biaya, membuat film Gundala tidak sebanding dengan film luar lainnya, tetapi bisa diadu. Salah satunya, sempat Gundala masuk nominasi Festival Film Internasional, sejajar dengan Film Joker, dan mendapat respon yang positif juga.
Boleh dibilang grafik di gundala "berkembang" dari film cgi Indonesia lainnya, dengan sutradara yang memutuskan untuk syuting ke lokasi langsung tanpa melibatkan teknologi Green Screen, yang Indonesia pun belum bisa menjadi andalan dalam layar bioskop, merupakan putusan yang sangat tepat Om Joko Anwar. Berbicara kekurangan, efek petir dalam film ini masih terasa gatal di mata saya saat menonton, mungkin karena tidak terlihat asli (ye...., gamungkin lak asli juga yang dipakai buat film).
![]() |
| https://www.youtube.com/watch?v=8rauD1vxMCw |
Selanjutnya di scene seorang anggota dpr termuda duduk dan diikat di kaki dan tangannya, dipasang katrol, dan depan si bapak ini terdapat anggota keluarganya digantung di gedung yang lantainya banyak (entahlah lantai berapa, pokoknya kalau jatuh bisa tewas) jika ia bergerak sembarangan maka keluarganya terancam. Background saat keluarganya digantung serta diikat, ada yang janggal gitu, mungkin saya yang salah liat atau emang ada yang salah, seperti tidak sinkron antara latar sebelum keluarganya jatuh dan saat si Bapak pergi menyelamatkan mereka di lantai bawah.
3. TOKOH
Sepanjang menonton film, sangat fokus dan tertarik pada perkembangan si Sancaka ini, Muzaki Ramdhan, dia pemeran dari sancaka kecil, begitu mantap kalo dibilang untuk aktingnya, tak lupa juga Abimana Aryasatya, juga berhasil memerankan Sancaka besar. Dari awal hingga akhir, semua tokoh menjalankan karakternya masing-masing dengan baik dan rapi, kecuali bagi saya, ada tu musuh yang karakternya psikopat, ketawa sepanjang scene dengan membawa bola, keknya dia seperti kurang di psikopatnya. Saya terkesan saat semua bawahan pengkor (musuh utama) dalam film dipanggil satu persatu, yang dari mereka itu pekerjaanya ada dari dokter hingga pekerja seni. Apalagi angle camera serta cinematography-nya.
![]() |
| https://www.youtube.com/watch?v=8rauD1vxMCw |
Kekurangan, saya sangat kecapean memahami semua karakter dalam satu film dan itu cukup banyak, kurangnya pendalaman cerita karakter tambahan, atau mungkin saja ini agar lebih penasaran untuk film selanjutnya, dan ada yang saya anggap muka nya kek sama gitu, padahal berbeda orang. Di akhir, musuh selanjutnya muncul, disebutkan seorang legenda dulunya yang terkubur dengan hanya kepala dalam balok es, dan tubuhnya terpendam dalam museum. Kalimat yang saya ingat saat scene tersebut adalah "Kepala Legenda dan Darah Pahlawan". (dua jam nonton ginian, hanya ingat ini doang wkwkwk) mayat ini dapat di-edo tenseikan (dibangkitkan), musuh yang digadang-gadang paling kuat, sedangkan hero selanjutnya muncul , yaitu Sri Asih yang menjadi film selanjutnya.
![]() |
| https://www.instagram.com/p/B1TQyy-nuk2/ (instagram Joko Anwar) |
4. PERTARUNGAN
Banyak pertarungan yang diandalkan dalam film ini, terlebih bahwa Indonesia punya bela dirinya silat, menjadi andalan dalam setiap film Indonesia laga Action. Sangat apik dan keren jika dibilang, tetapi terlalu cepat saat scene di mana semua bawahan musuh utama, yaitu pengkor. dan bingung juga, tadi dia bertarung dengan ini, kok tiba-tiba udah ganti aja lawannya, dan saya lupa musuhnya udah kalah atau belum. Film ini sangat padat, masalah selalu muncul di setiap beberapa menit, tapi masih bisa dipahami.
Pertarungan yang epic di awal kekuatan sancaka terbangun dan cukup kaget bahwa saat Gundala mencas kekuatannya lewat petir yang dialirkan dari antene kepala (oowwh itu mah guna antena sirip tu). Awalnya keren dengan tinju-tinju segala macam pada musuh, lalu saat puncaknya kekuatan gundala terisi penuh, pada akhirnya musuh berakhir dengan diterbangkan oleh Sancaka, dan itu membuat saya ketawa. (jadi kekuatannya nerbangin orang juga)
![]() |
| https://www.youtube.com/watch?v=8rauD1vxMCw |
_______________________________________________________________________________
Keempat itu menjadi review saya terhadap Gundala, dengan murni pikiran saya. Kalau dibilang, Gundala emang keren, yang belum nonton segera nonton dengan beli tiketnya untuk perfilman Indonesia yang lebih maju, kalau film luar negeri baru lah... lihat di... bioskop juga Lah!. terdapat misteri juga di Gundala ini, dan apakah film selanjutnya terjawab atau tidak. Saya gatau juga. Kita nantikan di film Sri Asih...
Terima kasih. Wassalamualaikum wr. wb.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Nilai Total yang saya berikan ialah 7.0
Nilai Rata-rata di TIX ID: 8,7 (15Sept2019)
Kincir.com: 8/10
Heroid.id: 7/10







0 Response to "Review Gundala, Film Superhero Indonesia yang Mantap"
Posting Komentar